Bahaya Menuruti Hawa Nafsu
Allah Azza Wa JaUa berfirman:

"Adakah engkau lihat orang yang mengambil hawa nafsunya menjadi Tuhannya, dan Allah menyesatkannya kerana mengetahui (kejahatan hatinya)."(QS. Al-Jaasiah: 23)
Ibnu Abbas mengatakan:
"Orang kafir ilu menjadikan agamanya tanpa petunjuk dari Allah bahkan tanpa panduan." Yakni memperturutkan hawa nafsu, memenuhi apa yang diinginkannya dan tidak mengamalkan kitab Allah. Maka seolah-olah dia telah menyembah (menghamba) kepada hawa nafsunya.
"Janganlah engkau turut hawa nafsu mereka..."
(Q.S. Al-Maidah: 48)
"Janganlah engkau ikuti hawa nafsu hingga menyesatkanmu dari jalan Allah."
(QS. Shad: 26).
Oleh kerananya Nabi saw memohon perlindungan dengan sabdanya:
"Ya Allah, aku mohon perlindungan kepada-Mu dari hawa nafsu yang dituruti dan kedekut yang diikuti."
Dan beliau bersabda:
"Tiga hal yang membinasakan: menurut hawa nafsu, kedekut yang diikuti dan kesombongan seseorang akan diri sendiri."
Demikian ini kerana segala maksiat, datangnya dari nafsu. Ia akan menghantarkan kamu ke Neraka. Semoga kira dijauhkan Allah darinya.
Sebahagian orang arif berkata: "Jika dua perkara menghalangmu sedangkan engkau tidak tahu mana yang benar, maka telitilah mana yang lebih dekat kepada nafsumu, lalu tinggalkan saja dia. Oleh kerananya Imam Syafie berkata: Jika kau dihadapkan pada dua perkara
Kau tidak tahu mana salah dan benaraya
Hindarkan hawa nafsumu saja.
Ia hanya menghantarkan orang kepada seksa.
Al-Abbas mengatakan: "Jika dua pandangan menggiurkanmu, tinggalkan yang engkau sukai dan ambillah yang terberat bagimu." Sememangnya perkara yang ringan itu mudah kamu ambil, dekat tempatnya, ringan biayanya, lalu menggiurkan nafsu orang kepadanya. Adapun hal yang berat, susah untuk mendapatkan, jauh tempatnya, susah pula untuk menjaganya, hingga nafsu malas kepadanya, tidak suka pula sebab susah untuk mengusahakannya.
Dirawikan dari Umar bin Khatab ra, dia berkata: 'Tundukkan nafsu ini! Ia jahat, menyeretmu ke dalam keburukan. Sedangkan kebenaran itu berat bagi seseorang. Tapi yang jahat ringan saja. Meninggalkan kesalahan lebih ringan dan mudah daripada harus bertaubat. Betapa banyak pemandangan yang meng- giurkan syahwat walaupun sesaat saja akibatnya membawa duka yang panjang."
Luqman berkata kepada anaknya: "Hai anakku, pertama yang mesti kuperingatkan kepadamu adalah bahawa setiap orang itu ada nafsu syahwat Jika kamu turuti dia, dia akan meminta yang lainnya. Sungguh syahwat itu bersembunyi dalam hati seperti persembunyian api dalam batu. Jika dibakar menyala, jika ditinggalkan akan padam juga."
Setengah mereka mengatakan:
Jika kau turuti permintaan nafsu
Keharaman yang lain akan dia minta darimu.
Juga yang lain mengatakan:
Jika tidak pernah kau tahan permintaan hawa nafsu
Ia akan minta yang membawamu celaka.
Lagi, kata yang lain:
Ketahuilah, selamanya kau akan buta
Jika kau perturutkan keinginan nafsumu saja.
Juga dikatakan:
Jika kau suka mendapatkan kepujian
Terkabulnya cita-cita dari rahmat Rabbi
Tinggalkan keinginan yang buruk ini.
Dialah musuh yang lebih memusuhi.
Dia selalu meminta dan suka.
Meskipun telah banyak melakukan dosa.
Banyak yang buta akibat dia.
Tinggalkan saja dia, jika engkau ada hati.
Ada pula seorang penyair mengatakan:
Kecemerlangan akal terhalang oleh hawa nafsu
Kelicikan orang derhaka bertambah cerdik juga."
Al-Fudhail bin Abas mengatakan:
"Hari-hari menenggelamkan orang bodoh.
Dengan menawarkan segala keinginan.
Terkadang-kadang pemuda suka memuji hal yang salah
Kebenaran juga dicelanya."
Rasulullah saw bersabda:
"Allah menciptakan akal dan berkata padanya: "Mengadaplah!" Lalu dia mengadap. Dan berkata pula padanya: "Berpalinglah!" Dia pun berpaling. Maka Allah lalu berkata: "Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, tidak aku berikan kau melainkan pada makhluk yang paling Aku sukai."
Kemudian Allah menciptakan kebodohan. Dia berkata padanya:
"Mengadaplah!" Maka dia pun mengadap. Dia berkata lagi: "Berpalinglah!" Maka ia pun berpaling. Kemudian Allah berkata: "Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, tidak Aku berikan kau melainkan kepada makhluk yang paling Aku benci."
(Ht. Tarmizi).
Seorang penyair berkata:
Sungguh menemukan kebenaran sejati
Orang yang menggunakan akal untuk meniti.
Dia melihat jika hawa dituruti
Keburukan dan seksa pasti menimpa diri.
Penyair yang lain mengatakan:
Jika kau ingin mendapat kebahagiaan
Hawa nafsu janganlah kau perturutkan.
Tahanlah dia dari segala keinginan
Takutlah akan tersesat jalan.
Tinggalkan segala rayuan.
Kemahuannya hanyalah pada kejahatan.
Supaya engkau terjun ke Neraka
Putuskan saja semua isyaratnya.
Memang hawa nafsu hanya akan menyeretmu ke dalam kegelapan fitnah dan duka. Jangan biarkan dia melakukan hal-hal yang tercela dan tenggelam ke dalam kesusahan. Oleh kerananya setengah mereka mengatakan: "Jika aku mampu akan kuceraikan saja dia", kemudian dia bersyair:
Jauhkan dunia, jika kau tenggelam di sana
Kau bakal sendirian dan sengsara.
Dunia itu tidur lelap. Sedang Akhirat berjaga. Dan di antara keduanya adalah maut Kita sedang dalam mimpi. Siapa memandang dengan hawa nafsu akan panas. Siapa memutuskan dengan hawa nafsu akan menyimpang. Dan siapa memperturutkannya saja tidak akan mendapatkan kepuasan.
Rasulullah saw bersabda:
"Sebaik-baik agamamu adalah warak."
Dan beliau bersabda:
"Amal terutama adalah warak."
Dan sabda beliau pula:
"Jadilah wira'i, maka kau manusia paling beribadah. Jadilah orang qanaah, maka kau manusia yang paling bersyukur."
Rasulullah saw bersabda:
"Siapa tidak ada sifat warak, pasti akan terjerat dalam maksiat kepada Allah ketika sunyi. AUah tidak menyediakan sesuatu dari ilmu-Nya."
Ibrahim bin Adham mengatakan: "Zuhud itu ada tiga maqam: Zuhud fardu, iaitu meninggalkan segala larangan (haram). Zuhud Salamah, iaitu meninggalkan segala yang syubhat. Dan Zuhud fadhal, iaitu zuhud dalam perdebatan." Ibnu Mubarak mengatakan: "Rahsia zuhud ialah, jika orang zuhud lari dari manusia, carilah dia. Jika dia mencari manusia, larilah darinya." Alangkah bagus orang yang bersyair:
Aku telah menemukannya jangan kau kira yang lainnya. Sungguh wira'i itu di sisi dirham ini.
Jika kau mampu memilikinya namun kau tinggalkan jua Taqwamu itulah taqwa seorang muslim.
Orang zuhud bukanlah orang yang zuhud pada dunia sewaktu dunia telah berpaling darinya. Tetapi orang yang zuhud adalah ketika dunia menghampirinya, namun dia meninggalkannya saja. Tidak mahu melihatnya.
Seperti yang di-katakan Abu Tamam:
Jika orang tidak zuhud sewaktu dunia menghampirinya.
Dia bukan orang zuhud yang sebenarnya.Setengah hukama mengatakan:
Celaka pemburu dunia yang tidak abadi.
Yang selalu berputar dengan luasnya.
Kebersihannya adalah kotor.
Kesegarannya bahaya. Angan-angannya tipuan saja.
Kebaikannya adalah kezaliman.
Mudanya tua, kedamaiannya celaka.
Lazatnya penyesalan, dan keadaannya tiada.
Pemiliknya bertambah sengsara.
Apalagi sewaktu meninggalkannya.
Larilah darinya, jangan kau mimpikan keindahannya.
Dia nikmat dalam duka
Beramallah untuk syurga yang tidak ada batasnya.
Tidak takut mati ataupun tua.
Yahya bin Muaz mengatakan: "Hendaklah kamu memandang pada dunia dan ambil pelajaran. Meninggalkannya dengan berwaspada dan usahamu di sana sebagai kehamsan. Dan pencarianmu kepada Akhirat mesti didahulukan."