Thursday, May 14, 2015

Wajib beriman dengan takdir

Wajib beriman dengan takdir


Memadailah anda dengan hanya mempercayai takdir Allah Ta'ala, yang baik dan yang buruk, lalu anda mengerahkan dirimu untuk mematuhi perintah Tuhan dan menjauhi tegahanNya. Ke- mudian hendaklah anda sentiasa bertaubat atas kecuaianmu untuk mendirikan segala kewajiban terhadap Allah Ta'ala. Selalu-selalulah minta pertolongan dari Allah Ta'ala serta bertawakkal kepadaNya.
Sabda Rasulullah s.a.w.:

"Jika sampai saja kepada sebutan takdir, hendaklah kamu berhenti."

Nabi s.a.w. melarang mendalami dalam persoalan takdir, di-sebabkan ia mengandungi bibit-bibit bahaya dan banyak mudharat- nya.

Seorang lelaki bertanya Saiyidina Ali r.a. mengenai takdir. Baginda menjawab: Ia laksana lautan yang dalam, jangan sampai menduganya. Ia laksana jalan yang gelap-gulita, jangan melaluinya. Ia adalah rahasia yang ditutupkan Allah kepadamu, jangan membongkarnya.

Seseorang pembesar negara telah bertanya Muhammad bin Wasi' r.t. mengenai takdir, beliau menjawab: Adalah lebih utama anda menumpukan fikiran anda kepada jiranmu yang di dalam kubur, daripada anda melibatkan otakmu dalam mendalami persoalan takdir.

Adalah menjadi kebiasaan para salaf dan khalaf dari ahlil-haq ( ahli kebenaran) meletakkan kepercayaan penuh kepada qadha' dan qadar (takdir dan ketentuan Allah), yang baik dan yang buruk. Mereka sekalian bersepakat dalam tujuan ini, sambil menahan diri untuk membuat sebarang protes atas takdir Tuhan dan ketentuanNya, ketika mereka meninggalkan sebarang perintah atau mengerjakan sebarang larangan. Mereka menganggap bahwa memprotes ke atas sesuatu takdir yang menyebabkan anda mengerjakan sesuatu larangan atau meninggalkan sesuatu kewajiban sebagai suatu perkara yang amat berat dosanya. Maka sekiranya anda juga mengira diri anda sebagai ahlil-haq, hendaklah anda menurut mereka dan berjalan atas dasar mereka. Kalau tidak marilah membaca apa kata Allah terhadap orang-orang yang mengingkari perjalanan kaum Mu'minin, dan dengarlah firmanNya:


"Sesiapa yang menenfang Rasul sesudah jelas baginya kebenaran, dan difurumya juga jalan-jalan yang bukan jalan orang-orang yang beriman, Kami akan hadapkan dia kepada tujuan yang ia menuju, dan akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka Jahannam. Itulah tempat yang amat buruk."
(an-Nisa': 115)

Sesudah itu, hendaklah anda mengetahui, moga-moga Allah merahmati anda, bahwasanya tidak boleh dan tidak wajar bagi seorang Mu'min mempercayai dalam dirinya, bahwa tiada salah atau tiada berdosa, jika ia meninggalkan sebarang perintah yang wajib, atau membuat sebarang perkara yang dilarang, dengan menyalahkan takdir yang menguasai dirinya atau telah ditetapkan atas dirinya.
Begitu pula, apabila berlaku darinya sebarang perbuatan atau larangan yang tiada diredhai Allah, lalu ia membuat alasan dengan takdir dan ketentuan Allah sebagai keuzurannya, padahal ia masih bisa memilih atau memperbedakan, maka sudah tentulah ia telah melakukan suatu dusta atau fabrikasi yang menanggung dosa yang besar.

Aku khuatir bala' ini juga telah merebak kepada golongan ahli ilmu pengetahuan dan ahli ibadat, lebih-lebih lagi kepada seumum kaum Muslimin. Buktinya, apabila berlaku sesuatu perkara serupa itu di hadapan kita, tidak pernah kita melahirkan rasa marah atau kesal, atau dukacita, padahal perkara itu dicela dan dilarang oleh agama. Hendaklah kita bertaqwa kepada Allah selaku kaum Muslimin yang mengetahui bahwa perkara itu adalah terlarang, dan hendaklah kita menolak dakwaan itu. Sebab Allah Ta'ala tidak akan menguzurkan kita dalam persoalan qadha' dan qadar ini, dan tidak akan menerima alasan-alasan batil kita mengenainya, selagi kita diberiNya kuasa dan pilihan.

Andaikata kita mendengar salah seorang kaum Muslimin membuat alasan-alasan batil itu, maka hendaklah kita segera menegah, serta memahamkannya, bahwa dosa membantah takdir dan ketentuan Tuhan dalam persoalan meninggalkan perintah dan melakukan larangan adalah lebih besar dan lebih berat dari dosa melanggar perintah dan melakukan larangan itu sendiri. Bertaqwalah kepada Allah, dan jangan sekali-kali tercebur ke dalam dua dosa sekaligus, kelak kita akan tertarik kepada kemurkaan Allah dari dua arah.


No comments:

Post a Comment